Senin, 13 Februari 2012

Malam Biru


Dear Me,
Bukan ingin menjadi cewek cengeng saat ini tapi sekarang, detik ini, aku sangat merindukan jimbo, ntah dia merasakan perasaan aku saat ini atau enggak tapi. Perasaan inilah yang menghalangi aku untuk memaafkan diriku sendiri.

Aku berjalan berlahan menatap kosong kedepan, tidak terasa ini sudah 2 tahun aku menjalani hidup dengan kesendirian, tapi aku nyaman dengan keadaan ini, aku senang dengan hidupku sekarang, mungkin. Pagi ini aku mulai dengan lumayan baik, aku tidur lebih awal dan bangun lebih pagi, aku sempat memasak sarapan dan menikmatinya dengan secangkir kopi, aku bahkan sempat menyapa tomi, anjing tetanggaku yang selalu menggoyangkan ekornya dan menggonggong senang melihatku. Semoga hari ini baik seperti biasanya.

“Pagi ruby” sapa weni teman sekantorku, dia dan aku masuk keperusahaan ini hampir dalam waktu yang sama, dia diterima lebih dulu lalu tiga hari kemudian aku ditelepon oleh perusahaan untuk menggantikan posisi marketing yang sebelumnya, karna dia harus pindah kekota lain dan disaat itulah aku dipanggil. Mujur, itu kata ibuku. So, kami sudah 5tahun menjadi sahabat.
“Pagi wen, ada tugas apa kita pagi ini?”
“Ah..gak terlalu penting banget sih. Cuma harus mencatat barang-barang yang dipesan dan yang akan dikirim. Dan tebak apa kejutan pagi ini?? ” weni tersenyum lebar. Aku yakin berita yang akan aku dengar kali ini pasti sesuatu yang sangat menyenangkan. Maksudku coba lihat wajahnya saat ini sangat tersirat jelas kalau ada sesuatu yang mengembirakan.
Aku masih diam menunggu weni memberitau kejutan macam apa yang dia bicarakan  “Well,aku dengar bos akan mengumumkan siapa the best seller of the year hari ini, dan hadiahnya adalahhh....” weni benar-benar membuatku menahan nafas “Liburan ke PARIS ”
Aku hampir berteriak mendengar hadiahnya, ya ampun hadiah tahun ini benar-benar keren, ya memang hadiah ditahun kemarin adalah mobil keluaran terbaru, cindy hampir pingsan begitu namanya disebut. Dan dia keliatan lebih ‘berkilauan’ sejak itu.
“Kira-kira tahun ini siapa ya yang akan mendapatkan hadiah fantastis itu?” ujarku sambil mulai membuka map demi map kerjaan dimejaku
“Aku harap kau yang menang, aku sangat ingin kamu berlibur keparis. Setelah apa yang terjadi aku pikir kamu pantas mendapatkannya” ujar weni memandangku sendu, entah pandangan kasihan, prihatin atau apalah. Aku selalu menghindari topik ini, dan aku gak mau menghancurkan moodku yang sangat baik pagi ini dengan mengungkit masalah itu lagi.
“Hei, aku gak separah itu kan. Lagipula aku gak terlalu butuh liburan ” aku memutar kursiku menghadap meja dan mulai sibuk mengerjakan aktifitas rutin. Weni tak bersuara lagi. Maaf wen, tapi aku sungguh tak ingin mengingat hal yang pasti akan menghancurkan aku.

“Ibu, aku benar-benar belum merasa harus mencari pasangan hidup lagi saat ini” aku masih terus tergesah-gesah menuju coffee shop untuk meeting dengan manager dari retaurant yang baru dibuka, dan aku sudah telat 10 menit, dan telepon dari ibuku benar-benar membuatku stres.
“Ayolah ruby, ini sudah dua tahun. Sampai kapan kau mau mengenangnya?” suara ibu terdengar khawatir, tentu saja dia khawatir. Hanya tinggal menghitung hari menuju hari bahagia dan jimbo pergi, dan akulah penyebabnya. Aku yang mengacaukan segalanya “Ibu hanya ingin ada seseorang yang menjagamu disana”
Aku diam dan berhenti melangkahkan kakiku “Aku akan baik-baik aja bu. Tidak ada yang perlu dicemaskan, aku masih ingin mengejar karirku. Dan itu saja dulu fokus yang ingin aku capai, oke bu?” ibu diam, dia tak berkata apapun lagi “Baiklah, karna aku harus mengejar bis dan bertemu client dan aku udah terlambat 15menit....hallo?” dan sambungan telepon terputus, mungkin ibu kali ini sangat marah atau tersinggung. Entahlah, tapi aku sungguh tak bisa pergi untuk kencan buta, sudah cukup bagiku.

Aku bergegas memasuki cafe yang bercat brown ringan dengan papan nama besar ‘HOPE’ rasanya ingin tertawa membaca papan nama ini ‘Harapan? Apa yang bisa diharapkan dari harapan? I’m Hopeless remember?’
“Ada yang lucu? Semoga kamu menertawakan diri sendiri karna telat 20menit”
Suara culas itu mengusikku, aku berbalik badan dan menghilangkan senyum dari wajahku
“Maaf pak, saya...”
“Sudahlah, cepat selesaikan presentasi kamu, aku gak punya banyak waktu” pria tinggi menyebalkan itu duduk dan melipat tangannya. Sebenarnya dia cukup tampan dan yaaa tampan walau agak sedikit...oh tuhan dia tampan sekali.
Dengan masih menyembunyikan wajah yang tersipu-sipu, aku tersenyum simpul lalu duduk dan mengeluarkan berkas-berkas kerja.
“Begini pak saya mau menawarkan beberapa perlengkapan alat masak yang berkualitas dan beberapa ornamen ataupun interior penuh untuk cafe bapak, dengan harga yang sepadan maka semua barang bisa kami kirim hari ini juga”
“Kalau aku beli seluruh barang dari tempat kamu apa ada bonus lain atau promo?”
“Kami bisa menyediakan jasa designer interior dan beberapa ornamen kecil seperti vas kecil untuk ditiap meja nanti”
“Oke, tinggalkan aja list harga dan brosur barang. Karna sekarang aku harus segera pergi dan aku udah telat 35menit ” ujarnya langsung berdiri dan berlalu
Gila, arogannya minta ampun banget nih orang. Hilang tak bersisa tu muka ganteng.

“Sooo... gimana pertemuan dengan client tadi?” wina menahan tawa
Aku menghela nafas kesal, siapa yang tidak kesal setelah berjalan beberapa meter dan harus naik beberapa bis hanya disambut oleh muka masam  dan perkataan ketus “Tidak Baik”
“Pria tua memang begitu, mereka begitu sensitif begitu bertemu dengan wanita cantik yang gak mungkin bisa jadi milik mereka, ya walaupun begitu semoga saja dia kaya dan mempunyai anak yang sangat tampan” ujar wina sambil memasang muka sedih yang dibuat-buat.
Damn, He is so rude. Benar-benar menyia-nyiakan wajah gantengnya” aku terdiam, aku tak percaya mengatakan itu dengan suara yang sedikit keras
“Apa? Siapa?” tanya wina penasaran
Aku langsung berpaling dan berusaha mengabaikan pertanyaannya
“Heh, jangan mengacuhkan aku begitu. Siapa yang ganteng? Apa kakek tua sipemilik cafe?”
“Sudahlah aku malas membicarakan ini”
Wina langsung menyeret kursinya dan duduk disebelahku “Ayolah cerita, kamu suka kakek-kakek ya? Type sungguh buruk nona”
“Siapa yang suka kakek-kakek, kamu ini, ngomong sembarangan” aku menjitak kepala wina yang setahun lebih tua dariku, tapi itu berarti dia jauh lebih dewasa...dia malah jauh lebih seperti anak-anak.
“Jadi dia seorang pangeran tampan ya?? Ceritakan dong”
“Oke oke, dia memang bukan kakek-kakek tapi tingkahnya dan wajahnya sudah mirip kakek-kakek walau dia mungkin hanya berumur beberapa tahun lebih tua dari mu. Wajahnya sangat tampan, aku bahkan sempat tak berkedip tapi begitu dia berbicara brak..ancur sudah pesona itu ”
“Separah itu?”
“Tentu saja separah itu, aku telat beberapa menit dan dia berkata seakan-akan aku sudah menghabiskan separuh waktunya”
Wina tertawa keras, sampai rudy dimeja sebelah menoleh kearah kami
“Apa yang kau lihat mata empat?” wina membentak rudy, hingga rudy kembali menatap layar computer
“Wen, jangan gitu lah. Kau tau kan kalau rudy naksir kamu”
“Like i care..” ujar weni lalu mulai mengusikku
“Trus gimana?”
“Dia bilang dia akan menghubungi lagi kalau dia tertarik membeli produk dari kita”
“Oh”